BUNGKUS ROKOK

Rokok Kretek Asing Berbanderol Murah Bisa Ancam Industri Domestik

Seluruh stakeholder pertembakauan meski waspada terhadap penetrasi rokok asing yang semakin tajam menggerus pasar rokok domestik.

Peneliti dari Asosiasi ekonomi Politik Indenesia (AEPI) Salamuddin Daeng mengingatkan itu menyusul beredarnya rokok kretek dengan brand asing yang memasang banderol Rp12.000 per bungkus.

“Ini jelas tragedi, karena rokok kretek yang selama ini dihasilkan oleh bangsa Indonesia, menjadi budaya dan produk asli Indonesia, kini bisa diimpor dari luar negeri dan dijual dengan harga murah,” terang Salamuddin Daeng dalam rilisnya.

BUNGKUS ROKOK

BUNGKUS ROKOK

Meski diklaim sekadar mengganti kemasan dari rokok kretek yang ada sebelumnya brand nasional, Daeng memastikan, ada kesengajaan dari perusahaan rokok asing untuk mengincar pasar rokok kretek Indonesia. Lebih jauh, mereka bahkan mengincar perusahaan-perusahaan rokok kretek Indonesia untuk dibeli, mengincar sektor UKM produsen rokok kretek untuk dihancurkan, lalu diambil alih pasarnya.

“Caranya adalah dengan mengacak-acak kebijakan cukai, menekan perusahaan kecil dengan cukai mencekik, menyetarakan dengan perusahaan besar dan asing,” kata Daeng.

Ia mengakui Industri Hasil Tembakau (IHT) memang memiliki pangsa pasar sangat besar di Indonesia. Menurut Daeng, nilai pasar tembakau Indonesia mencapai Rp 450 – 500 triliun per tahun. Dari nilai pasar sebesar itu, ia mencatat, hanya 30% yang masih dikuasai perusahaan lokal.

“Jadi, tinggal sedikit nilai perdagangan tembakau yang tersisa di Indonesia? Bagaimana kalau nanti seluruh produk rokok termasuk kretek diimpor? Rakyat Indonesia dengan jumlah perokok lebih dari Rp 100 juta orang hanya akan menjadi lahan jarahan asing,” jelasnya.

BUNGKUS ROKOK

BUNGKUS ROKOK

Itu sebabnya, Daeng mewanti-wanti, ketahanan sub-sektor tembakau harus diperjuangkan. Terlebih jika mengingat, nilai pendapatan negara dari cukai mencapai Rp 150 triliun. Belum termasuk pajak yang dibayarkan oleh industri. Nilai cukai tembakau ini, lanjut Daeng, setara dengan tiga kali pendapatan sektor ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral). Yakni gabungan sektor migas, mineral dan batubara, atau setara 15 – 30 kali sumbangan royalti Freeport.

“Artinya, kalau IHT jatuh semua ke tangan asing, maka sebenarnya habis sudah ekonomi Indonesia,” tegas Daeng.

Leave a Reply

Your email address will not be published.