rokok

Di Balik Kampanye Harga Rokok Harus Mahal

Harga rokok harus mahal, harus dinaikkan agar anak, remaja, dan warga miskin tak bisa membelinya. Harga rokok harus naik demi menekan jumlah perokok di Indonesia. Harga rokok di Indonesia masih jauh lebih murah dari negara lainnya sehingga harga rokok harus segera dinaikkan.

rokok

Gerakan harga rokok harus mahal ini gencar digaungkan oleh pegiat antirokok. Mereka melihat dampak kerusakan rokok dari versi subjektif mereka. Padahal kalau kita lihat dari sisi lainnya, rokok mempunyai kontribusi tinggi untuk negara. Belum lagi hal-hal seperti kearifan lokal, tradisi, dan warisan khas asli Nusantara: Kretek, yang belum banyak diketahui para pegiat AntiRokok. Oleh karena itu gerakan harga rokok harus mahal, patut untuk dipikirkan ulang. Mari kita dedah sedikit demi sedikit dari sudut pandang para peggiat antirokok.

Anak-anak dan remaja di bawah umur masih sangat mudah dan banyak mendapatkan akses membeli rokok. Maka, akan sangat mudah ditekan jika harga rokok dinaikkan. Ini salah dan keliru. Regulasi rokok sudah sangat jelas dan tertera massal di iklan televisi, iklan di jalanan serta spanduk dan poster. Bahwa rokok adalah produk yang bisa dikonsumsi oleh orang-orang berumur 18 tahun ke atas. Regulasi yang sudah jelas inilah yang perlu kita kawal pelaksanaannya.

Edukasi kepada masyarakat dan lingkungan anak-anak serta remaja di bawah umur sangat perlu dilakukan. Begitu pula kepada para pedagang rokok, harus lebih selektif dan mentaati regulasi ini. Penerapan ini tentu tak bisa mendapatkan hasil yang instan. Menaikkan harga rokok, adalah solusi instan yang berdampak negatif jika diterapkan. Ambil contoh minuman keras. Harganya dinaikkan dan susah mendapatkannya, sehingga muncullah beberapa kasus minuman keras oplosan. Harganya murah tapi efek sampingnya buruk, hingga menimbulkan banyak kasus kematian. Pemerintah harusnya berkaca pada hal ini.

rokok djolali

Harga rokok di Indonesia masih sangat murah dibandingkan negara lain. Ini alasan yang konyol dan tak rasional. Bagaimana bisa harga sebuah produk di negeri ini dibandingkan dengan negara lain. Soal pendapatan warganya, konsumsi warganya serta akses keterjangkauan produknya adalah hal-hal yang tak bisa dibandingkan. Contoh kasus coba kita bandingkan dengan Jepang. Rerata pendapatan masyarakat Indonesia berdasarkan UMR berkisar antara Rp 2-4 juta. Sedangkan di Jepang, Upah Minimum Regional di Tokyo, Jepang sebesar 200.000 yen dalam setiap bulannya. Jika dikurs ke rupiah maka pekerja di Jepang itu bergaji sekitar Rp 24 juta.

Harga rokok di Indonesia jika diukur dengan pendapatan masyarakat Jepang, sampai dengan harga Rp 100 ribu pun masih dapat dibilang murah. Sementara harga rokok sebesar Rp 20 ribu bagi masyarakat Indonesia sudah termasuk mahal, karena pendapatannya tidak sebesar di Jepang, dan daya belinya pun rendah. Dari segi pendapatan saja sudah jauh berbeda. Belum lagi kita bicara soal kelas-kelas dalam masyarakat kita, masih banyak masyarakat yang belum mendapatkan upah minimum yang sesuai.

Kepala Subdirektorat Komunikasi dan Publikasi Ditjen Bea Cukai, Deni Surjantoro pernah mengatakan, harga rokok secara nominal absolut memang murah. Namun, dengan mempertimbangkan daya beli, harga rokok di Indonesia sudah mahal.

Apa yang dikatakan oleh Deni Surjantoro lebih rasional. Perbandingan harga rokok di Indonesia dengan negara-negara lain tidak bisa disamakan. Sebab kita harus menghitung kurs mata uang negara kita yang berbeda dengan negara lain. Belum lagi persoalan hitungan daya beli masyarakat di Indonesia yang juga berbeda.

rokok

Gerakan harga rokok harus mahal ini perlu ditakar ulang. Ada hal-hal yang dibawa dari gerakan ini. Hal seperti pembatasan dan pengendalian tembakau agar diterapkan di Indonesia. Dengan dalih tembakau tak baik untuk kesehatan, tembakau memiskinkan masyarakat, dan lain sebagainya. Maka produk tembakau harus dibatasi dan kalau perlu dilarang keberadaannya di negeri ini. Jika anda ingin merasakan tembakau yang sehat, maka belilah produk-produk alternatif tembakau ciptaan industri kesehatan.

Sampai di sini, sudah sedikit jelas, ada agenda yang dibawa dibalik gerakan harga rokok harus mahal. Anda mau percaya begitu saja dan tetap menerima putusan bahwa harga rokok sepatutnya mahal? Saya rasa sih, tidak!   

Leave a Reply

Your email address will not be published.